News  

Tunik, Dulunya Pakaian Laki-laki Kini Jadi Favorit Wanita? – Jurnal Faktual

Realita.idTunik, pakaian longgar yang menutupi dada, bahu, dan punggung, kini menjadi salah satu item fashion yang banyak digemari oleh wanita.

Tunik bisa dipadukan dengan berbagai macam bawahan, seperti celana, rok, atau legging.

Tunik juga cocok untuk berbagai kesempatan, baik formal maupun santai. Tunik juga nyaman dipakai, karena tidak menerawang dan tidak mengikat gerak.

Namun, tahukah Anda bahwa tunik sebenarnya bukan berasal dari Timur Tengah, seperti yang banyak orang kira? Tunik juga bukan pakaian khas wanita, melainkan pakaian khas laki-laki di zaman kuno.

Bagaimana bisa tunik mengalami perubahan sejarah yang begitu besar? Simak ulasan berikut ini.

Tunik berasal dari kata Latin “tunica”, yang berarti pakaian. Tunik pertama kali dikenakan oleh orang Yunani Kuno, Romawi Kuno, dan Kekaisaran Romawi Timur.

Tunik pada saat itu adalah pakaian laki-laki dan anak laki-laki, yang terbuat dari kain wol berwarna putih.

Tunik biasanya berlengan pendek atau tanpa lengan, dan panjangnya sampai di atas lutut atau di bawah lutut.

Tunik memiliki variasi model dan warna, tergantung dari status sosial dan jabatan pemakainya.

Pria muda dan prajurit mengenakan tunik yang sederhana dan pendek, sedangkan laki-laki dewasa, bangsawan, dan hakim mengenakan tunik yang lebih panjang dan berhias.

Tunik juga bisa dikenakan dengan toga, jubah, atau mantel di atasnya.

Tunik memiliki peraturan ketat tentang warna. Warna ungu adalah warna kaisar, dan tidak boleh dikenakan oleh rakyat biasa.

Warna lain yang memiliki makna khusus adalah merah, biru, hijau, dan kuning. Warna-warna ini menunjukkan afiliasi politik, agama, atau militer pemakainya.

Tunik mulai mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman. Tunik berlengan panjang mulai populer di kalangan laki-laki, terutama setelah Julius Caesar mengenakannya.

Tunik juga mulai dikenakan oleh wanita, sebagai pakaian dalam atau pakaian luar. Tunik wanita disebut stola, dan biasanya berwarna terang dan berhias.

Tunik terus bertahan hingga abad pertengahan, ketika pakaian-pakaian baru mulai bermunculan. Tunik masih dikenakan oleh rohaniwan, biarawan, biarawati, dan anggota sekte keagamaan.

Tunik juga menjadi inspirasi bagi pakaian-pakaian lain, seperti kaftan, gamis, jubah, dan kurta.

Tunik kembali populer di zaman modern, terutama di kalangan wanita. Tunik kini memiliki berbagai macam model, bahan, dan motif.

Tunik juga dipengaruhi oleh budaya dan gaya dari berbagai negara. Tunik bisa ditemukan di berbagai toko, baik online maupun offline.

Tunik menunjukkan bahwa pakaian bisa mengalami transformasi sepanjang sejarah.

Tunik juga menunjukkan bahwa pakaian bisa melintasi batas gender, budaya, dan agama.

Tunik adalah pakaian yang unik, fleksibel, dan universal. Tunik adalah pakaian yang layak untuk dicintai.