News  

Tulus atau Dipaksa? – Realita.id

jfid – Danielle Aloni, seorang ibu asal Israel yang baru saja dibebaskan dari penyanderaan Hamas bersama putrinya yang berusia lima tahun, Emilia, menulis surat terima kasih kepada para penculiknya karena telah memperlakukan mereka dengan baik selama tujuh minggu di Gaza.

Surat itu dipublikasikan oleh Hamas pada hari Senin, namun keasliannya masih dipertanyakan oleh Zionist.

Dalam surat yang ditulis dalam bahasa Ibrani kemudian diterjemahkan kedalam bahasa arb, Hamas mengklaim Aloni menulis: “Kepada para jenderal yang menemani kami dalam beberapa minggu terakhir… Saya berterima kasih dari lubuk hati saya atas kemanusiaan luar biasa yang Anda tunjukkan kepada saya dan putri saya Emilia.”

“Kalian seperti orang tua baginya, mengundangnya ke kamar kalian kapan pun dia mau,” lanjut surat itu. “Dia pergi dengan merasa kalian semua adalah temannya, dan bukan hanya teman, tapi teman yang sangat sangat baik.”

“Terima kasih, terima kasih, terima kasih atas banyak jam mengasuhnya,” tulis surat itu lagi.

Dalam surat itu, Aloni diduga juga berterima kasih kepada para teroris karena telah “memberinya permen, buah-buahan, dan apa pun yang tersedia bahkan ketika tidak ada cukup.”

“Putri saya merasa dia adalah ratu di Gaza,” kata surat itu, menambahkan bahwa Emilia tidak akan meninggalkan Gaza dengan “trauma psikologis”, meskipun menyaksikan pembantaian yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober dan tujuh minggu sebagai sandera.

Danielle dan Emilia adalah bagian dari keluarga besar yang ditawan oleh Hamas ketika mengunjungi saudara perempuannya, Sharon Aloni-Cunio, di kibbutz Nir Oz. Seluruh keluarga tersebut, termasuk Sharon, suaminya David Cunio, dan anak kembar mereka Emma dan Yuli, masih ditahan di Gaza.

Aloni dan putrinya yang masih kecil itu sedang mengunjungi saudara perempuannya, Sharon Aloni-Cunio, yang juga disandera bersama suaminya David Cunio dan anak kembar berusia tiga tahun, Emma dan Yuli. Sharon Aloni-Cuinio dan anak kembarnya dibebaskan dari penyanderaan pada hari Senin, tetapi David masih disandera.

Surat Danielle telah menyebar luas di media Arab dan Timur Tengah, termasuk Anadolu, Al-Jazeera, dan lainnya. Surat itu juga mendapat tanggapan beragam dari publik Israel, ada yang menganggapnya sebagai tanda penghormatan kepada Hamas, ada juga yang menganggapnya sebagai tanda ketakutan dan tekanan psikologis.

Namun, apakah surat itu benar-benar ditulis oleh Aloni dengan sukarela, atau apakah dia dipaksa untuk menulisnya, atau bahkan apakah dia adalah penulis sebenarnya?

Belum ada konfirmasi dari Aloni sendiri. Dia juga belum memberikan wawancara kepada media sejak dibebaskan pada hari Jumat.

Beberapa analis pro zionist menilai bahwa surat itu adalah upaya propaganda Hamas untuk memperlihatkan diri sebagai pihak yang beradab dan bermoral, sekaligus menekan Israel untuk membebaskan lebih banyak tahanan Palestina dalam pertukaran sandera.

Sebaliknya, beberapa aktivis hak asasi manusia berpendapat bahwa surat itu menunjukkan bahwa Hamas tidak sepenuhnya kejam dan tidak berperikemanusiaan, dan bahwa ada kemungkinan dialog dan rekonsiliasi antara kedua belah pihak.

Namun, publik menilai bahwa surat itu asli, sebab Hamas tidak memiliki rekam jejak yang memperlakukan sandranya dengan kejam. Bahkan banyak tuduhan Israel ke Hamas, atau propaganda Israel ke Hamas seringkali gagal untuk menyudukan hamas sebagai organisasi militer yang kejam.

Sementara itu, keluarga dan teman-teman Aloni mengungkapkan kelegaan dan kegembiraan atas pembebasannya, tetapi juga keprihatinan dan kesedihan atas nasib para sandera lainnya yang masih ditahan oleh Hamas.

Isi surat itu adalah sebagai berikut:

23/11/2023

Untuk para jenderal yang menemani saya dalam beberapa minggu terakhir, tampaknya kita akan berpisah besok. Namun, saya ingin mengucapkan terima kasih dari lubuk hati saya atas kebaikan tak terduga yang telah Anda tunjukkan kepada putri saya, Emilia.

Anda berperan seperti orang tua baginya, selalu mengundangnya masuk ke kamar Anda setiap kali dia menginginkannya. Emilia mengakui perasaan bahwa Anda semua bukan hanya teman, tetapi benar-benar sahabat baik yang tulus.

Terima kasih, terima kasih, terima kasih atas waktu yang banyak Anda habiskan sebagai pendamping. Terima kasih karena sabar Anda terhadapnya, memanjakannya dengan permen dan buah-buahan, dan segala sesuatu yang Anda sediakan bahkan jika tidak selalu tersedia.

Anak-anak seharusnya tidak berada di dalam lingkungan militer, tetapi berkat Anda dan juga orang-orang baik lain yang kami temui di perjalanan, putri saya merasa sebagai ratu di Gaza dan secara umum menganggap dirinya sebagai pusat dunia.

Kami tidak bertemu dengan siapa pun selama perjalanan panjang ini, baik dari unsur militer atau pemimpin, kecuali mereka memperlakukan Emilia dengan lembut, penuh kasih, dan penuh cinta.

Saya akan selamanya berterimakasih karena Emilia tidak pergi dari sini dengan trauma yang akan terus menghantu. Saya akan mengingat tindakan baik yang telah Anda lakukan di sini, meskipun menghadapi situasi sulit dan kerugian berat yang Anda hadapi di Gaza.

Danielle Aloni

Surat itu juga menimbulkan reaksi beragam di media sosial, dengan beberapa pengguna mengecam Hamas sebagai organisasi teroris yang mencuci otak dan memanipulasi para sandera, sementara yang lain mengekspresikan simpati dan penghargaan kepada Aloni atas sikapnya yang berani dan berempati.

Surat itu mungkin tidak pernah terungkap kebenarannya, tetapi yang pasti adalah bahwa surat itu telah menyoroti kisah tragis dan kompleks dari konflik Israel-Palestina, yang telah merenggut ribuan nyawa dan menyebabkan penderitaan yang tak terhitung bagi kedua belah pihak.

Namun, surat itu bernyawa, seperti ditulis dengan hati-hati dan dengan diksi yang tulus. Ditambah sikap para sandra yang lainnya ketika dibebaskan, tampak seperti hendak berpisah dari pertemuan dengan seorang teman yang berarti. Senyum para sandara tak tampak seperti dibuat-buat.