News  

Perpecahan di Kubu Palestina, Presiden Palestina Kritik Keras Hamas – Jurnal Faktual

Realita.idKonflik berkepanjangan di Gaza telah menghantam sendi-sendi kehidupan warga Palestina. Reruntuhan bangunan, ratusan korban jiwa berjatuhan, serta kepanikan yang merayap di setiap sudut kota.

Namun di balik tragedi kemanusiaan yang mencekam ini, terdapat perpecahan yang semakin menganga di kubu Palestina sendiri.

Sang Presiden, Mahmoud Abbas, tak segan mengritik keras aksi kelompok perlawanan Hamas yang dianggap telah mencederai perjuangan rakyat.

Dalam KTT Liga Arab di Bahrain pekan lalu, Abbas terang-terangan menyalahkan Hamas atas eskalasi konflik dengan Israel yang kembali memanas sejak 7 Oktober 2023.

Ia menyebut operasi militer sepihak Hamas pada Oktober lalu telah memberi Israel lebih banyak dalih dan pembenaran untuk melancarkan agresi ke Gaza.

Pernyataan ini disambut decak kecewa dari pihak Hamas yang menyesalkan sikap menyudutkan Abbas.

Pertentangan ini mencerminkan jurang pemisah yang kian dalam antara Abbas yang menjalankan politik diplomasi dengan Hamas yang memilih jalur perlawanan bersenjata.

Data dari lembaga independen Palestinian Policy Network menunjukkan tingkat kepercayaan publik Palestina terhadap Otoritas Palestina pimpinan Abbas hanya 35% pada 2023, terendah dalam satu dekade terakhir.

Sementara Hamas mencatat peningkatan dukungan warga seiring meningkatnya tekanan hidup akibat konflik.

“Jika kedua kubu ini tak segera dipertemukan, tidak hanya solidaritas perjuangan yang tercerai-berai. Kepentingan nasib seluruh rakyat Palestina juga terancam,” tutur Hanan Bakri, pengamat politik dari Universitas Bir Zeit, dengan nada menggugah.

Bakri memaparkan, perpecahan internal telah membuat suara Palestina semakin terbelah dalam forum-forum internasional.

Padahal, momentum uni suara seperti inilah yang justru paling dibutuhkan untuk memperjuangkan kemerdekaan di tengah kemelut berkepanjangan.

Fahmi Ismail, seorang jurnalis yang mengamati situasi Gaza dalam beberapa tahun terakhir, menggambarkan betapa tragis dampak konflik ini pada kehidupan masyarakat.

“Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana anak-anak harus berlindung di reruntuhan akibat gemuruh bom. Wajah ketakutan di mata mereka sungguh mencekam,” ungkapnya dengan sorot meredup.

Kondisi kemanusiaan Gaza semakin memburuk seiring eskalasi konflik. Data PBB mengungkapkan lebih dari 1.800 warga Palestina terluka dan 230 lainnya tewas akibat serangan Israel sejak awal 2024, sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan. Belum lagi ribuan yang harus mengungsi dan terpapar trauma berkepanjangan.

Kelangsungan hidup rakyat Palestina terancam, baik dari ancaman luar maupun perpecahan internal. Jejak-jejak kehancuran di Gaza adalah potret menyayat bahwa ikatan kemanusiaan serta solidaritas perjuangan tengah diuji.

Mampukah dua kubu ini mengesampingkan ego masing-masing demi satu kepentingan: masa depan Palestina yang merdeka dan berdaulat? Hanya dialog terbuka dan rekonsiliasi yang dapat mengobati luka bangsa.

Harapannya, Gaza tak sekadar menjadi monumen puing kehancuran, tetapi obor yang menyulut kembali persatuan di bumi Palestina.