News  

Pedagang Atribut Partai di Pasar Senen Merana di Tahun Politik – Jurnal Faktual

Realita.idJakarta – Pemilihan umum (Pemilu) 2024 semakin dekat. Namun, kemeriahan pesta demokrasi itu belum terasa bagi para pedagang atribut partai di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Mereka mengeluhkan pesanan yang sepi dan pendapatan yang menurun drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Salah satu pedagang atribut partai di Pasar Senen, Saiful (60), mengatakan pesanan yang diterimanya belum ramai. Ia mengaku pendapatannya kini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, berbeda jauh dengan masa Pemilu 2019 atau 2014 lalu.

“Kalau dibanding hari biasa mungkin meningkat sepuluh persen lah ya. Tapi ya menurun jauh kalau dibanding tahun-tahun lalu. Kalau pemilu dulu tuh ya, dagangan saya bisa lah itu buat beli mobil dua. Kalau sekarang, wah jauh, jauh,” tuturnya kepada detikcom, Rabu (3/1/2024).

Saiful menjual berbagai macam atribut partai, mulai dari kaos, kemeja, bendera, pin, topi, hingga stiker. Harganya bervariasi, mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 25.000 per buah. Pelanggannya tidak hanya dari Jakarta, tapi juga dari seluruh Indonesia, terutama dari daerah timur seperti NTB, NTT, Sulawesi, hingga Papua.

Namun, pesanan dari daerah pun tidak sebanyak dulu. Saiful menduga hal ini karena adanya isu terkait sistem pemilu tertutup yang akan diberlakukan pada Pemilu 2024. Sistem ini membuat pemilih hanya bisa memilih partai, bukan calon legislatif (caleg) secara langsung.

“Orderan sepi ini karena kan orang masih takut masalah pemilihan tertutup atau terbukanya. Itu yang mereka takuti buat gencar-gencarnya nyetak. Kalau sekarang, orang tuh memang takut buat ngeluarin biaya, dewan-dewan pun takut, karena apa? Percuma saja dia bikin cetakan kalau hasilnya nihil juga,” ujarnya.

Senada dengan Saiful, pedagang lainnya, Ferry (55), juga mengeluhkan penurunan pesanan atribut partai. Ia mengatakan pesanannya kini hanya ratusan, padahal dulu bisa mencapai ribuan. Ia juga khawatir sistem pemilu tertutup akan membuat pesanannya semakin sepi.

“Pesanan sih ada tapi ya masih dikit-dikit aja lah, nggak bisa dipatokin juga dapet berapa karena nggak tentu. Kalau dulu sih pesanannya bisa ribuan tapi sekarang mah masih seratus, dua ratus lah. Menurun jauh kalau sekarang, apalagi kan katanya Pemilu mau sistem tertutup, jadi cuma tahu partainya aja, ya makin nggak bisa diharapin kalau gitu,” katanya.

Ferry mengaku tidak tahu kapan pesanan atribut partai akan ramai lagi. Ia berharap Mahkamah Konstitusi (MK) segera memutuskan mengenai sistem pemilu tertutup atau terbuka. Ia juga berharap ada kebijakan yang mendukung para pedagang atribut partai agar tidak merugi.

“Ya kami UMKM takut lah, dewan saja takut apalagi pedagang, apalagi kayak kami-kami ini UMKM. Kami berharap MK segera memutuskan, jangan sampai kami yang jadi korban. Kami juga berharap ada bantuan dari pemerintah atau partai-partai agar kami bisa tetap bertahan,” pungkasnya.