News  

Merek-Merek Kopi ini Dukung apartheid Israel di Palestina – Realita.id

Realita.id Kopi, sebagai minuman yang populer di seluruh dunia, menjadi pilihan banyak orang. Apakah kopi yang anda minus masuk ke daftar boikot?

Penting untuk menyadari bahwa beberapa merek kopi terkemuka memiliki keterkaitan dengan Israel, negara yang tengah disorot karena praktik pendudukan dan apartheid terhadap rakyat Palestina.

Sebagai konsumen, memahami latar belakang ini dapat mempengaruhi pilihan Anda ketika memesan kopi dari merek-merek tertentu.

Salah satu merek yang menjadi sorotan adalah Starbucks, yang memiliki pemilik saham terbesar, Howard Shultz, yang dikenal sebagai pendukung kuat Zionisme.

Shultz tidak hanya menginvestasikan sejumlah besar uang di ekonomi Israel, tetapi juga secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap negara tersebut dalam konflik dengan Palestina.

Sikap pro-Israel Shultz telah mendorong sejumlah aktivis pro-Palestina untuk memboikot Starbucks.

Pret, jaringan kafe asal Inggris yang terkenal dengan hidangan sandwich dan saladnya, juga mendapat perhatian karena rencananya untuk membuka cabang di tanah Palestina yang diduduki oleh Israel.

Kerjasama dengan perusahaan Israel, Cafe Cafe, yang terlibat dalam mendukung pendudukan dan kolonisasi Israel di Palestina, menimbulkan kontroversi.

Selain itu, Pret dikritik karena menjual produk-produk dari perusahaan Israel yang terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia.

Nestle, pemilik merek Nespresso dan Nescafe, juga tidak luput dari sorotan karena kepemilikan saham mayoritas di Osem, produsen makanan Israel yang beroperasi di Palestina yang diduduki.

Dengan memiliki waralaba di pemukiman ilegal Atarot, Nestle dianggap melanggar hukum internasional dan mendapat keuntungan dari situasi pendudukan ilegal tersebut.

Lavazza, sebagai sponsor Arsenal, juga menciptakan kontroversi dengan melakukan perundingan mendesak terhadap klub setelah pemain Mohamed Elneny mengungkapkan dukungan untuk Palestina.

Tindakan ini dianggap sebagai intervensi terhadap hak berekspresi pemain oleh sejumlah penggemar Arsenal.

Coca-Cola Company, pemilik Costa Coffee, beroperasi di pemukiman Israel ilegal di Atarot, yang memicu ketegangan.

Atarot, yang sebelumnya menjadi pusat industri dengan keberagaman perusahaan, kini menjadi simbol ketidakadilan dan penindasan terhadap rakyat Palestina.

Keseluruhan situasi ini memunculkan pertanyaan etis terkait operasional Coca-Cola di wilayah tersebut.

Dengan memahami keterkaitan merek kopi dengan isu-isu kontroversial ini, konsumen memiliki kekuatan untuk membuat pilihan yang sesuai dengan nilai dan keyakinan mereka.

Boikot terhadap merek-merek tertentu dapat menjadi langkah konkrit dalam mendukung keadilan dan perdamaian di Timur Tengah.