News  

Mengenal Lebih Dekat Milisi yang Membela Palestina – Realita.id

Realita.id – Konflik Israel-Palestina telah melanda wilayah tersebut selama beberapa dekade, menyisakan penderitaan dan kehancuran di jalur konflik yang terus berubah-ubah. Dalam konteks ini, muncul kelompok militan yang memainkan peran krusial dalam eskalasi kekerasan tersebut.

Salah satunya adalah Sarang Singa, yang dikenal juga sebagai Areen al Usud dalam bahasa Arab. Kelompok ini didirikan oleh dua pemuda Palestina, Mohammed al-Azizi (Abu Saleh) berusia 25 tahun, dan Abdel Rahman Suboh (Abu Adam) berusia 28 tahun, asal Kota Nablus di Tepi Barat.

Sarang Singa dikenal sebagai pelaku serangkaian aksi terhadap tentara dan pemukim Israel. Namun, di balik serangan ini, terdapat kenyataan yang tak terbantahkan: sebagian besar anggota dan pendukung kelompok ini adalah anak muda Palestina yang tumbuh di tengah konflik yang melibatkan keluarga dan teman-teman mereka.

Tak kalah signifikan, gerakan Hamas, yang merupakan perpaduan antara gerakan Islam Sunni dan nasionalisme Palestina. Mereka memperjuangkan hak Palestina melalui pendekatan militan, yang terbukti pada serangan mendadak pada 7 Oktober 2023.

Ratusan roket diluncurkan, merenggut nyawa sekitar 700 warga Israel. Serangan ini memberikan gambaran bahwa Hamas tetap menjadi kekuatan yang tidak bisa diabaikan dalam dinamika konflik ini.

Sementara itu, Jihad Islam Palestina (PIJ) hadir sebagai kelompok militan terbesar kedua di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Mereka berusaha mendirikan negara Islam Palestina dengan tekad untuk menghancurkan Israel.

Sejak berdiri pada tahun 1979, PIJ telah menjadi bagian integral dari perjuangan Palestina dalam meraih kemerdekaan.

Namun, di balik kepungan konflik ini, terdapat fakta yang tak terelakkan: ada banyak orang biasa di kedua sisi yang hanya ingin hidup dalam damai.

Konflik Israel-Palestina bukan hanya tentang kelompok militan yang berjuang, tetapi juga tentang masyarakat yang terperangkap dalam lingkaran kekerasan dan ketidakpastian.

Semoga suatu hari nanti, kedamaian akan menggantikan peperangan, memungkinkan orang-orang biasa merasakan kehidupan yang mereka layakkan, di tanah yang mereka panggil rumah.