News  

Kolam Mamilla, Saksi Bisu dari Kekejaman Orang Yahudi terhadap Orang Kristen – Realita.id

Realita.idDi tengah-tengah kota Jerusalem, ada sebuah kolam kering yang menyimpan sejarah kelam.

Kolam itu bernama Mamilla Pool, tempat di mana ribuan orang Kristen dibantai oleh orang Yahudi pada tahun 614 Masehi, saat invasi Persia menggulingkan kekuasaan Bizantium.

Pembantaian itu dilakukan sebagai balas dendam atas penindasan Bizantium terhadap Yahudi selama berabad-abad. Namun, sejarah itu sengaja dikubur dan dilupakan oleh banyak pihak, termasuk oleh Israel yang kini menguasai kota suci itu.

Mamilla Pool adalah salah satu dari beberapa waduk kuno yang menyediakan air bagi penduduk Jerusalem. Waduk ini dibangun pada zaman Herodes Agung, raja Yahudi yang bersekutu dengan Romawi.

Waduk ini terhubung dengan saluran bawah tanah ke Hezekiah’s Pool, sebuah kolam yang terletak di dalam tembok kota, dekat dengan istana Herodes. Waduk ini juga diduga sebagai sumber air untuk dua kolam lain yang dibangun oleh Herodes, yaitu Pool of the Towers dan Serpent’s Pool.

Nama Mamilla berasal dari bahasa Latin Maximilla, yang merupakan nama seorang wanita Bizantium yang hidup pada abad ke-9 Masehi. Menurut salah satu sumber, wanita itu adalah istri dari Thomas, seorang pejabat Bizantium yang selamat dari invasi Persia.

Ia diduga sebagai penyumbang dana untuk pembangunan waduk ini pada tahun kering, untuk kepentingan penduduk Kristen di sekitar Gereja Makam Suci. Waduk ini menjadi saksi bisu dari tragedi yang terjadi pada tahun 614 Masehi, ketika tentara Persia menyerbu Jerusalem dengan bantuan orang Yahudi.

Orang Yahudi yang sudah lama tertindas oleh Bizantium, melampiaskan amarah mereka kepada orang Kristen, yang dianggap sebagai sekutu Bizantium. Mereka membunuh, menjarah, dan menghancurkan gereja-gereja dan biara-biara Kristen.

Salah satu tempat yang menjadi lokasi pembantaian adalah Mamilla Pool, di mana orang Yahudi menawan dan membantai orang Kristen dengan kejam.

Menurut seorang saksi mata, Santo Sabas, seorang rahib Kristen yang hidup pada abad ke-6 Masehi, orang Yahudi meminta tebusan kepada orang Kristen dari tangan tentara Persia dengan uang yang memadai.

Namun akhirnya membantai mereka dengan penuh sukacita di Mamilla Pool, dan semua itu terjadi dengan tumpahan darah umat Kristen. Jumlah korban yang tewas diperkirakan mencapai 60.000 orang, sebelum tentara Persia akhirnya menghentikan pembantaian tersebut.

Bukti arkeologis dari pembantaian ini ditemukan pada tahun 1986, ketika sebuah kapel yang berisi ratusan kerangka manusia ditemukan di bawah tempat parkir di dekat Mamilla Pool.

Kerangka-kerangka itu berasal dari penduduk kota yang berusia muda dan berasal dari kedua jenis kelamin. Penemuan ini menunjukkan bahwa mereka adalah korban dari pembantaian yang dilakukan oleh orang Yahudi.

Pembantaian ini menjadi salah satu faktor yang memicu perang salib pada abad berikutnya, ketika orang Kristen Eropa berusaha merebut kembali Jerusalem dari tangan Muslim, yang menguasai kota itu setelah mengalahkan Persia pada tahun 638 Masehi.

Pada masa pemerintahan Muslim, Mamilla Pool menjadi bagian dari pemakaman Muslim terbesar di Jerusalem, yang berisi makam-makam para emir, mufti, sufi, tentara saladin, dan tokoh-tokoh penting lainnya dari Jerusalem.

Pemakaman ini digunakan sampai tahun 1927, ketika Dewan Muslim Tertinggi memutuskan untuk melestarikannya sebagai situs yang amat bersejarah.

Namun, setelah perang Arab-Israel 1948, wilayah ini dikuasai oleh Israel, yang mengabaikan nilai sejarah dan keagamaan dari pemakaman ini. Sejumlah bangunan, jalan, dan fasilitas umum lainnya dibangun di atas lahan pemakaman, membuatnya hancur berikut nisan dan makam-makam.

Sebuah rencana untuk membangun sebuah Museum Toleransi di bagian pekuburan ini diumumkan pada tahun 2004, menimbulkan banyak kontroversi dan menghadapi perintah untuk diberhentikan sebelum mendapat persetujuan akhir pada bulan Juli 2011.

Mamilla Pool dan pemakaman di sekitarnya adalah saksi bisu dari sejarah yang terlupakan, yang menunjukkan betapa kejamnya orang Yahudi terhadap orang Kristen pada masa lalu. Sejarah ini sengaja dikubur dan dilupakan oleh banyak pihak, termasuk oleh Israel yang kini menguasai kota suci itu.

Sejarah ini juga menunjukkan betapa adil dan damainya pemerintahan Muslim terhadap orang Kristen dan Yahudi pada masa lalu. Sejarah ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita semua, agar tidak mengulangi kesalahan dan kekejaman yang sama, dan menghormati nilai-nilai toleransi dan kemanusiaan yang sesungguhnya.