News  

Kisah Republik Demokratik Finlandia – Jurnal Faktual

Realita.id – Pada akhir tahun 1939, dunia sedang dilanda Perang Dunia II. Uni Soviet, yang baru saja menandatangani pakta non-agresi dengan Nazi Jerman, mencoba untuk memperluas pengaruhnya di wilayah Skandinavia.

Salah satu targetnya adalah Finlandia, negara tetangga yang memiliki hubungan tegang dengan Moskwa sejak kemerdekaannya pada tahun 1917.

Uni Soviet menuntut agar Finlandia menyerahkan sebagian wilayahnya di perbatasan, termasuk Semenanjung Hanko, Isthmus Karelia, dan beberapa pulau di Teluk Finlandia, sebagai jaminan keamanan untuk kota Leningrad.

Finlandia menolak tuntutan tersebut, dan Uni Soviet menyerang pada 30 November 1939, memulai Perang Musim Dingin.

Serangan Uni Soviet tidak berjalan mulus. Pasukan Finlandia, yang lebih sedikit jumlahnya tetapi lebih terlatih dan beradaptasi dengan kondisi musim dingin, berhasil mempertahankan posisi-posisi penting dan menimbulkan kerugian besar bagi Tentara Merah.

Uni Soviet kemudian mengubah strateginya dan mencoba untuk memecah persatuan bangsa Finlandia dengan mendirikan sebuah negara boneka yang disebut Republik Demokratik Finlandia (RDF).

RDF didirikan pada 1 Desember 1939 di Terijoki, sebuah kota perbatasan Finlandia yang berhasil diduduki oleh Uni Soviet.

Pemimpinnya adalah Otto Ville Kuusinen, seorang komunis Finlandia yang melarikan diri ke Uni Soviet setelah kalah dalam Perang Saudara Finlandia pada tahun 1918.

Kabinetnya terdiri dari warga negara Soviet dan pengungsi sayap kiri Finlandia lainnya. RDF mengklaim sebagai pemerintah sah untuk seluruh wilayah Finlandia dan bersedia untuk berdamai dengan Uni Soviet dengan menyerahkan sebagian besar wilayahnya.

Uni Soviet berharap bahwa RDF akan mendapatkan dukungan dari kaum pekerja Finlandia dan memicu pemberontakan atau revolusi sosial di dalam negeri.

Namun, harapan ini tidak terwujud. Sebaliknya, invasi Uni Soviet justru menyatukan rakyat Finlandia dalam semangat perlawanan dan patriotisme.

RDF juga gagal mendapatkan pengakuan internasional, kecuali dari Uni Soviet sendiri dan negara-negara satelitnya, seperti Mongolia dan Tuva.

Bahkan, beberapa tokoh dan penulis terkenal, seperti Jawaharlal Nehru, George Bernard Shaw, Martin Andersen Nexø, dan John Steinbeck, menyatakan dukungan mereka untuk RDF.

RDF hanya bertahan selama tiga bulan. Pada 12 Maret 1940, Finlandia dan Uni Soviet menandatangani Perjanjian Perdamaian Moskwa, yang mengakhiri Perang Musim Dingin.

Finlandia harus menyerahkan sekitar 10% wilayahnya, termasuk Isthmus Karelia, ke Uni Soviet. RDF kemudian digabungkan dengan Republik Sosialis Soviet Otonom Karelia, yang merupakan bagian dari RSFS Rusia, untuk membentuk Republik Sosialis Soviet Karelo-Finlandia, yang merupakan Republik Soviet. RDF menjadi salah satu contoh negara boneka yang singkat dan gagal dalam sejarah.