News  

Gibran ‘Samsul’ Rakabuming, Viral Abis Jelang Debat Cawapres! – Jurnal Faktual

Realita.id – Istilah ‘samsul’ menjadi sorotan di media sosial sebelum acara debat cawapres yang dijadwalkan berlangsung pada malam Jumat (22/12).

Istilah ini melekat pada Gibran Rakabuming Raka, cawapres nomor urut 2, yang menggunakan frasa tersebut di media sosial pribadinya.

Namun, mengapa ‘samsul’ menjadi begitu mencolok dan menarik perhatian?

Menurut penjelasan dari politikus PDIP, Masinton Pasaribu, yang juga menggunakan ‘samsul’ dalam unggahan media sosialnya, istilah ini sebenarnya merupakan singkatan dari asam sulfat.

Asam sulfat sendiri menjadi perbincangan karena Gibran Rakabuming Raka mengakui kesalahannya dalam menyebut asam folat sebagai asam sulfat dalam suatu acara sebelumnya.

Kontroversi ‘samsul’ tidak hanya sebatas pada makna singkatnya. Masinton mengklaim bahwa istilah ini merupakan bentuk kritik tajam dari netizen terhadap Gibran.

Banyak dari mereka yang merasa Gibran kurang memahami materi debat, bahkan ada yang membandingkannya dengan ‘belimbing sayur’ yang memiliki karakter asem, tajam, dan mudah rontok.

Dalam upaya merespons kritik dan opini netizen, Masinton turut mengunggah video yang kemudian menjadi viral.

Video tersebut memperlihatkan Masinton dan beberapa politikus lain memberikan semangat kepada ‘samsul’, mendorongnya untuk tampil optimal dalam debat yang akan datang.

Namun, ada yang menganggap pernyataan Masinton hanyalah sebagai hiburan politik semata, untuk meredakan ketegangan suasana.

Immanuel Ebenezer atau Noel, Wakil Komandan Relawan TKN Prabowo-Gibran yang juga terlibat dalam video tersebut, menekankan bahwa serangan melalui media sosial ataupun media elektronik tidak akan memberikan efek psikologis yang signifikan kepada Gibran.

Fenomena ‘samsul’ yang menjadi viral di media sosial mencerminkan bukan hanya dinamika politik dalam konteks debat cawapres, tetapi juga respons publik yang semakin terlibat dalam memberikan penilaian terhadap figur publik, terutama dalam era digital saat ini.

Dalam ruang publik yang terbuka, setiap kata atau tindakan figur publik dapat dengan cepat menjadi bahan perbincangan yang meluas, terkadang bahkan melampaui batas-batas politik yang biasa.