News  

Doni Monardo, Pejuang di masa Covid telah Meninggal – Jurnal Faktual

Realita.id – Pada Minggu, 3 Desember 2023, Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. (H.C.) Doni Monardo. Beliau meninggal dunia akibat stroke di usia 60 tahun. Doni Monardo dikenal sebagai sosok yang berdedikasi tinggi dalam mengabdi kepada negara dan rakyat, baik sebagai prajurit maupun sebagai pejabat sipil. Sepak terjang beliau dalam berbagai bidang layak diapresiasi dan dijadikan teladan bagi generasi muda.

Doni Monardo lahir di Cimahi, Jawa Barat, pada 10 Mei 1963. Ayahnya, Letkol CPM Nasrul Saad, adalah seorang prajurit yang berasal dari Lintau, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Ibunya, Roeslina, juga berasal dari Tanah Datar, tepatnya dari Nagari Sungai Tarab. Karena mengikuti ayahnya yang bertugas di berbagai daerah, Doni Monardo menghabiskan masa kecilnya di Aceh, sebelum akhirnya menetap di Padang hingga lulus SMA Negeri 1 Padang pada 1981.

Mengikuti jejak ayahnya, Doni Monardo masuk Akademi Militer pada tahun 1981 dan lulus pada tahun 1985. Sejak awal, Doni Monardo memilih untuk bergabung dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus), satuan elit TNI Angkatan Darat yang dikenal dengan kemampuan dan profesionalismenya. Doni Monardo menjalani berbagai penugasan dan pendidikan, baik di dalam maupun di luar negeri, yang mengasah keterampilan dan kepemimpinannya.

Salah satu penugasan yang paling menantang dan berbahaya yang pernah dijalani Doni Monardo adalah ketika ia menjadi komandan tim penyelamat sandera di Somalia pada tahun 2011. Saat itu, Doni Monardo yang berpangkat kolonel menjabat sebagai Komandan Grup 2 Kopassus. Ia bersama 11 anggotanya berhasil menyelamatkan 20 awak kapal MV Sinar Kudus yang disandera oleh perompak Somalia selama 46 hari. Operasi penyelamatan ini berlangsung selama 3 jam di tengah malam, dengan menghadapi perlawanan sengit dari perompak yang berjumlah sekitar 70 orang. Berkat keberanian dan kecerdikan Doni Monardo dan timnya, semua sandera berhasil dibebaskan tanpa ada korban jiwa. 

Doni Monardo juga terlibat dalam berbagai operasi militer lainnya, seperti Operasi Seroja di Timor Timur, Operasi Pemulihan Keamanan di Aceh, Operasi Pemulihan Keamanan di Papua, Operasi Pembebasan Sandera di Mapenduma, dan Operasi Penumpasan Teroris di Poso. Selain itu, Doni Monardo juga menjabat sebagai Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) dari tahun 2012 hingga 2014, Komandan Jenderal Kopassus dari tahun 2014 hingga 2015, Panglima Daerah Militer XVI/Pattimura dari tahun 2015 hingga 2017, dan Panglima Daerah Militer III/Siliwangi dari tahun 2017 hingga 2018. Pada tahun 2018, Doni Monardo dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas), sebuah lembaga yang bertanggung jawab atas koordinasi dan sinkronisasi kebijakan ketahanan nasional.

Pada tahun 2019, Doni Monardo ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menggantikan Willem Rampangilei. Di bawah kepemimpinan Doni Monardo, BNPB berperan aktif dalam menangani berbagai bencana alam yang melanda Indonesia, seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, erupsi gunung berapi, kebakaran hutan, dan lain-lain. Doni Monardo juga menginisiasi program-program pencegahan dan mitigasi bencana, seperti pembangunan tanggul laut, relokasi warga terdampak bencana, peningkatan kapasitas dan kesiapsiagaan daerah, serta edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat. 

Tak hanya itu, Doni Monardo juga ditunjuk sebagai Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 pada tahun 2020, saat pandemi virus corona melanda Indonesia. Doni Monardo bersama timnya berupaya keras untuk mengendalikan penyebaran dan dampak Covid-19, dengan melakukan berbagai langkah strategis, seperti pembatasan sosial berskala besar, peningkatan kapasitas tes, pelacakan, dan perawatan, penyediaan bantuan sosial dan ekonomi, serta percepatan vaksinasi. Doni Monardo juga menjadi salah satu tokoh yang pertama kali divaksin Covid-19 di Indonesia, sebagai bentuk dukungan dan kepercayaan terhadap vaksin buatan Sinovac. 

Selama menjabat sebagai Kepala BNPB dan Ketua Satgas Covid-19, Doni Monardo kerap melakukan kunjungan kerja ke berbagai daerah, untuk memantau dan mengevaluasi situasi dan kondisi di lapangan, serta memberikan bantuan dan arahan kepada pemerintah daerah dan masyarakat. Doni Monardo juga selalu berkoordinasi dengan berbagai kementerian, lembaga, organisasi, dan pemangku kepentingan lainnya, untuk memastikan sinergi dan kolaborasi dalam penanganan bencana dan Covid-19. Doni Monardo juga tidak segan-segan untuk turun langsung ke lokasi bencana dan Covid-19, untuk memberikan semangat dan motivasi kepada para relawan, petugas medis, dan masyarakat yang terdampak. 

Doni Monardo dikenal sebagai sosok yang rendah hati, tegas, dan humanis. Beliau selalu mengedepankan prinsip gotong royong, solidaritas, dan kepedulian dalam mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa dan negara. Beliau juga selalu menghargai dan mengapresiasi kontribusi dan kerja keras dari semua pihak yang terlibat dalam penanganan bencana dan Covid-19. Beliau juga selalu berempati dan bersimpati kepada korban dan keluarga yang terkena musibah. Beliau juga selalu berusaha untuk memberikan informasi yang akurat, transparan, dan bertanggung jawab kepada publik. 

Doni Monardo adalah jenderal yang mengabdi hingga akhir hayat. Beliau meninggal dunia saat masih menjabat sebagai Kepala BNPB dan Ketua Satgas Covid-19. Beliau meninggalkan warisan yang tak ternilai bagi bangsa dan negara, yaitu semangat dan dedikasi yang tinggi dalam mengemban amanah dan tanggung jawab. Beliau juga meninggalkan teladan yang patut ditiru bagi generasi muda, yaitu sikap dan perilaku yang profesional, integritas, dan humanis dalam menjalankan tugas dan fungsi. Beliau juga meninggalkan kenangan yang tak terlupakan bagi keluarga, sahabat, rekan, dan masyarakat, yaitu kebaikan dan kebijaksanaan yang selalu terpancar dari dirinya. Doni Monardo adalah pahlawan yang pantas dihormati dan dihargai oleh seluruh rakyat Indonesia.