News  

‘Bumi bukan milik kita’ – Raja Charles III di COP28 – Jurnal Faktual

Realita.id – Raja Charles III dari Britania Raya menyampaikan pidato yang menggugah hati para pemimpin dunia yang hadir di Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP28) di Dubai, Uni Emirat Arab.

Dalam pidatonya, Raja Charles III menekankan pentingnya aksi nyata dan tanggung jawab bersama untuk mengatasi krisis iklim yang semakin parah.

“Kita semua tahu bahwa bumi bukan milik kita, melainkan warisan yang kita pinjam dari anak cucu kita. Kita semua tahu bahwa kita harus berbuat lebih banyak dan lebih cepat untuk menjaga bumi ini agar tetap sehat dan sejahtera. Kita semua tahu bahwa kita tidak bisa menunda-nunda lagi, karena waktu kita semakin habis,” kata Raja Charles III.

Raja Charles III, yang telah lama dikenal sebagai aktivis lingkungan, mengajak para pemimpin dunia untuk bekerja sama dan berkomitmen untuk mencapai tujuan Perjanjian Paris, yaitu membatasi kenaikan suhu global menjadi 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri.

Ia juga mengingatkan bahwa negara-negara maju memiliki kewajiban moral dan hukum untuk membantu negara-negara berkembang yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.

“Kita tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa ada jutaan orang yang hidupnya terancam oleh perubahan iklim, baik karena banjir, kekeringan, kebakaran, badai, atau kelaparan. Kita tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa ada puluhan negara yang terancam tenggelam oleh kenaikan permukaan laut. Kita tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa ada ratusan spesies yang terancam punah oleh hilangnya habitat dan biodiversitas. Kita tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa ada triliunan dolar yang terbuang sia-sia akibat kerusakan lingkungan dan bencana alam,” ujar Raja Charles III.

Raja Charles III menyerukan agar negara-negara maju memenuhi janji mereka untuk menyediakan dana sebesar 100 miliar dolar AS per tahun mulai tahun 2020 untuk mendukung aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di negara-negara berkembang.

Ia juga menyerukan agar negara-negara maju meningkatkan ambisi mereka untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sesuai dengan sasaran ilmiah, serta berbagi teknologi dan pengetahuan yang ramah lingkungan dengan negara-negara berkembang.

“Kita tidak bisa menutup mata dan telinga kita dari kenyataan yang ada di depan kita. Kita tidak bisa berpura-pura bahwa kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kita tidak bisa berdalih bahwa kita tidak punya kemampuan atau sumber daya untuk bertindak. Kita tidak bisa menyerahkan tanggung jawab kita kepada generasi mendatang. Kita harus bertindak sekarang, bersama-sama, sebagai satu keluarga manusia,” tegas Raja Charles III.

Pidato Raja Charles III mendapat tepuk tangan meriah dari para peserta COP28, yang berlangsung dari 30 November hingga 12 Desember 2023.

COP28 merupakan konferensi perubahan iklim PBB yang ke-28, yang dihadiri oleh lebih dari 70 ribu delegasi dari 197 negara anggota Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC).

COP28 juga merupakan ajang untuk mengevaluasi kemajuan global dalam mencapai tujuan Perjanjian Paris, yang disepakati pada COP21 di Paris pada tahun 2015.

Salah satu agenda penting COP28 adalah menyelesaikan rincian mekanisme kerjasama internasional dalam Pasal 6 Perjanjian Paris, yang mengatur tentang perdagangan karbon antar negara.

Pasal 6 diharapkan dapat memberikan insentif bagi negara-negara untuk meningkatkan ambisi mereka dalam mengurangi emisi, serta menghindari penggandaan atau penghitungan ganda dalam pencapaian target nasional.

Selain itu, COP28 juga akan membahas isu-isu lain yang berkaitan dengan perubahan iklim, seperti pendanaan, adaptasi, kerugian dan kerusakan, transparansi, kapasitas, teknologi, gender, pendidikan, dan aksi non-negara.

COP28 juga akan menjadi ajang untuk meluncurkan inisiatif-inisiatif baru dan menandatangani kemitraan antara berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil, organisasi internasional, dan komunitas lokal.

COP28 juga akan menjadi kesempatan bagi negara-negara untuk memperbarui dan meningkatkan kontribusi yang ditentukan secara nasional (NDCs), yaitu rencana aksi perubahan iklim yang disampaikan oleh setiap negara kepada UNFCCC.

NDCs mencakup target, kebijakan, dan tindakan yang akan dilakukan oleh setiap negara untuk mencapai tujuan Perjanjian Paris. NDCs harus diperbarui setiap lima tahun, dengan siklus pertama berakhir pada tahun 2020.

Namun, menurut laporan terbaru UNFCCC, hanya 113 negara yang telah menyerahkan NDCs baru atau diperbarui hingga 30 Juli 2021, yang mencakup sekitar 49 persen dari emisi global.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa ambisi global untuk mengurangi emisi masih jauh dari cukup untuk mencapai tujuan Perjanjian Paris.

Jika NDCs saat ini dilaksanakan sepenuhnya, emisi global pada tahun 2030 akan turun hanya sekitar 0,5 persen dibandingkan dengan tahun 2010, padahal penurunan yang dibutuhkan adalah setidaknya 45 persen.

Oleh karena itu, COP28 diharapkan dapat mendorong negara-negara yang belum menyerahkan atau meningkatkan NDCs mereka untuk segera melakukannya, serta mengambil langkah-langkah konkret untuk mewujudkan komitmen mereka.

COP28 juga diharapkan dapat menghasilkan deklarasi politik yang kuat dan bersejarah, yang menunjukkan solidaritas dan kepemimpinan global dalam menghadapi krisis iklim.

Raja Charles III, yang telah menjadi raja sejak September 2022 setelah kematian Ratu Elizabeth II, mengatakan bahwa ia berharap COP28 dapat menjadi titik balik dalam sejarah perjuangan umat manusia melawan perubahan iklim.

Ia juga mengatakan bahwa ia akan terus mendukung dan mendorong aksi iklim di tingkat nasional dan internasional, serta menjadi teladan bagi rakyatnya dan dunia.

“Saya percaya bahwa kita memiliki kekuatan, kecerdasan, dan keberanian untuk mengubah nasib kita dan planet kita. Saya percaya bahwa kita memiliki kemauan, kebijaksanaan, dan kebaikan untuk berbagi beban dan manfaat dari aksi iklim. Saya percaya bahwa kita memiliki visi, nilai, dan harapan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi kita semua. Saya percaya bahwa kita bisa, dan kita harus, bertindak sekarang, bersama-sama, sebagai satu keluarga manusia,” pungkas Raja Charles III.