News  

Boikot X, Aksi Protes Pengguna Terhadap Kebijakan Pro Israel Elon Musk

Realita.idX, platform media sosial yang sebelumnya bernama Twitter, menjadi sorotan publik dunia karena dianggap memihak Israel dalam konflik dengan Palestina.

Sejak diakuisisi oleh Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX, pada Oktober 2023, X mengalami banyak perubahan yang menuai kontroversi, salah satunya adalah sistem monetisasi konten yang diduga memicu penyebaran informasi palsu dan propaganda.

Beberapa pengguna X yang pro-Palestina mengaku mendapat pembayaran dari X karena postingan mereka yang berisi dukungan terhadap Hamas, kelompok militan yang menyerang Israel pada awal November 2023.

Postingan tersebut mendapat banyak interaksi dari pengguna lain, baik yang setuju maupun yang menentang.

Salah satu akun yang mengklaim mendapat $3.000 dari X adalah @HitlerDidNothing, yang menyebarkan konten anti-Semit dan menyangkal Holocaust.

Tidak hanya itu, Elon Musk juga sempat merekomendasikan dua akun yang memberikan liputan langsung tentang perang di Gaza, yaitu @WarMonitors dan @sentdefender.

Namun, kedua akun tersebut ternyata sering memposting hal-hal yang salah dan tidak terverifikasi, bahkan menghina orang Yahudi.

Musk kemudian menghapus rekomendasinya dan meminta kedua akun tersebut untuk menggunakan kata-kata yang lebih akurat, atau ia akan menarik dukungannya.

Aksi-aksi Elon Musk dan X ini menimbulkan kemarahan dan kekecewaan di kalangan pengguna yang pro-Palestina, yang merasa bahwa platform media sosial tersebut tidak netral dan tidak dapat dipercaya.

Mereka pun memutuskan untuk melakukan boikot X, dengan cara menghapus akun mereka, berhenti mengakses situs X, atau beralih ke platform lain yang lebih ramah terhadap Palestina, seperti Facebook, Instagram, atau TikTok.

Salah satu pengguna yang ikut boikot X adalah Rizky, seorang mahasiswa di Jakarta yang aktif menyuarakan dukungan terhadap Palestina.

Ia mengatakan bahwa ia sudah tidak tahan lagi melihat X menjadi sarana propaganda Israel dan Amerika, yang menutup-nutupi kekejaman yang dilakukan terhadap rakyat Palestina. “Saya sudah tidak percaya lagi sama X.

Mereka hanya mau cari untung dari perang, tanpa peduli sama kemanusiaan. Saya lebih baik pakai Facebook atau Instagram, yang lebih fair dan informatif,” ujarnya.

Boikot X ini juga didukung oleh beberapa tokoh dan organisasi yang peduli terhadap Palestina, seperti aktivis hak asasi manusia Amal Clooney, penyanyi Rihanna, dan Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII).

Mereka mengajak pengguna X untuk bersolidaritas dengan Palestina dan menolak segala bentuk diskriminasi dan kekerasan yang dilakukan oleh Israel.

Mereka juga menuntut Elon Musk dan X untuk mengubah kebijakan mereka dan menghentikan praktik-praktik yang merugikan Palestina.

Sementara itu, Elon Musk dan X belum memberikan tanggapan resmi terkait boikot ini.

Namun, pada 20 November 2023, Musk mengumumkan bahwa ia akan menyumbangkan semua keuntungan X yang terkait dengan perang di Gaza kepada rumah sakit dan upaya bantuan di Israel.

Ia juga mengancam akan menonaktifkan akun-akun X yang menggunakan kata-kata seperti “zionis”, “Israel”, atau “Yahudi” untuk membela Palestina. Langkah ini dianggap sebagai bentuk permintaan maaf sekaligus provokasi oleh sebagian pengguna X.

Boikot X ini menunjukkan betapa pentingnya peran media sosial dalam membentuk opini publik dan mempengaruhi sikap politik.

Dengan adanya media sosial, informasi dapat tersebar dengan cepat dan luas, namun juga rentan terhadap manipulasi dan kesalahan.

Oleh karena itu, pengguna media sosial perlu kritis dan selektif dalam menerima dan menyebarkan informasi, serta menghargai perbedaan pandangan dan sikap.