News  

Bagaimana Sebuah Kelompok Rahasia Merayakan Hari Kemerdekaan Israel di Jakarta – Realita.id

Realita.idPada tanggal 14 Mei 2011, sekelompok sekitar 50 orang berkumpul di sebuah lapangan di Jakarta Selatan untuk merayakan ulang tahun ke-63 kemerdekaan Israel.

Mereka menyanyikan lagu kebangsaan Israel, mengibarkan bendera Israel, dan membacakan deklarasi kemerdekaan Israel. Mereka juga berdoa untuk perdamaian dan keamanan di Indonesia dan dunia.

Kelompok ini menyebut diri mereka sebagai Indonesia-Israel Public Affairs Committee (IIPAC), sebuah organisasi non-pemerintah yang mengklaim mempromosikan persahabatan dan kerjasama antara kedua negara.

Mereka menyatakan ingin mengakui dan menghormati kedaulatan Israel sebagai negara Yahudi, dan berharap Indonesia segera menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.

Namun, perayaan mereka tidak disambut baik oleh banyak orang Indonesia, terutama Muslim, yang melihat Israel sebagai musuh dan pelanggar hak asasi manusia di Palestina.

Pemerintah Indonesia, yang tidak mengakui Israel dan mendukung perjuangan Palestina, juga mengutuk acara tersebut dan menyatakan bahwa itu melanggar hukum dan konstitusi.

Siapakah orang-orang di balik IIPAC, dan apa motif dan kegiatannya? Bagaimana mereka bisa mengadakan acara kontroversial di negara yang tidak memiliki hubungan dengan Israel? Dan apa tantangan dan risiko yang mereka hadapi dalam mengejar agenda mereka?

Pendiri: Benyamin Ketang

Pendiri dan direktur eksekutif IIPAC adalah Benyamin Ketang, seorang pria berusia 39 tahun dari Wuluhan, Jember, Jawa Timur. Dia lulus dari Universitas Ibrani Yerusalem, di mana dia memperoleh gelar magister seni pada tahun 2006. Dia juga bekerja sebagai konsultan di industri minyak dan gas.

Menurut profil LinkedIn-nya, Ketang telah terlibat dalam berbagai proyek dan organisasi terkait Israel, seperti Israel-Indonesia Chamber of Commerce, Israel-Indonesia Business Forum, Israel-Indonesia Friendship Association, dan Israel-Indonesia Cultural Center.

Dia juga mengklaim telah menerima beberapa penghargaan dari lembaga-lembaga Israel, seperti Jerusalem Prize, Israel Defense Forces Medal, dan Israel Foreign Ministry Certificate.

Ketang mengatakan bahwa ia mendirikan IIPAC pada tahun 2002, tetapi tetap relatif tidak diketahui publik hingga diluncurkan pada tahun 2010 di Jakarta.

Dia mengaku terinspirasi oleh American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), sebuah kelompok penglob-al Israel yang berpengaruh di Amerika Serikat.

Dia mengatakan ingin meniru kesuksesan AIPAC dalam memengaruhi kebijakan pemerintah AS dan opini publik tentang Israel.

Ketang mengatakan bahwa dia bukan seorang Yahudi, tetapi seorang Kristen yang percaya pada nubuat Alkitab bahwa Israel adalah tanah pilihan Tuhan dan orang Yahudi adalah umat pilihan-Nya.

Dia mengatakan mendukung hak Israel untuk eksis dan mempertahankan diri, serta menentang segala bentuk terorisme dan ekstremisme. Dia juga mengatakan bahwa dia menghormati kedaulatan dan keragaman Indonesia, dan tidak bermaksud merugikan atau menyakiti siapa pun.

Namun, kredibilitas dan latar belakang Ketang telah dipertanyakan dan diperdebatkan oleh banyak kritikus, yang menuduhnya sebagai agen Zionis, penipu, pembohong, dan pengkhianat.

Mereka mengatakan bahwa dia tidak memiliki wewenang atau legitimasi untuk mewakili Indonesia atau Israel, dan bahwa dia menyebarkan informasi palsu dan menyesatkan tentang kedua negara itu.

Mereka juga mengatakan bahwa dia melanggar hukum dan konstitusi dengan mengadakan perayaan kemerdekaan, dan bahwa dia seharusnya ditangkap dan diadili.

Acara: Operasi Rahasia dan Berisiko

Perayaan kemerdekaan yang diorganisir oleh IIPAC pada tahun 2011 bukanlah yang pertama kali di Indonesia.

Menurut Ketang, acara serupa telah diadakan sebelumnya di Manado dan Papua, di mana terdapat komunitas kecil orang Yahudi dan Kristen Indonesia yang simpatik dengan Israel. Namun, acara di Jakarta adalah yang pertama kali menarik perhatian media dan kemarahan publik.

Ketang mengatakan bahwa ia merencanakan acara tersebut selama berbulan-bulan, dan mengundang orang-orang yang sejalan dengan pandangannya dan berminat pada Israel.

Dia mengatakan bahwa dia tidak mencari izin atau persetujuan dari otoritas, karena dia tahu itu akan tidak mungkin diperoleh.

Dia juga mengatakan bahwa dia menyimpan lokasi dan rincian acara tersebut sebagai rahasia, untuk menghindari campur tangan atau gangguan dari polisi atau kelompok lain.

Ketang mengatakan bahwa dia menyewa sebuah lapangan di Jakarta Selatan dari seorang penduduk lokal, dan mengatur bus untuk mengangkut peserta dari pusat perbelanjaan terdekat.

Dia juga mengatakan bahwa dia menyiapkan bendera Israel, sistem suara, dan penjaga keamanan. Dia mengatakan bahwa dia tidak mengharapkan masalah apa pun, karena dia berpikir acara tersebut tidak berbahaya dan damai.

Namun, rencana Ketang tidak berjalan lancar. Pada hari acara, dia mengatakan bahwa dia menerima telepon dari seorang wartawan yang somehow mengetahui tentang perayaan tersebut dan ingin meliputnya.

Ketang mengatakan bahwa dia mencoba meyakinkan wartawan itu, tetapi wartawan itu bersikeras untuk datang. Ketang mengatakan bahwa dia kemudian memutuskan untuk mengubah lokasi acara tersebut, dan memindahkannya ke lapangan lain di area yang sama.

Ketang mengatakan bahwa dia berhasil mengadakan acara tersebut tanpa insiden besar, tetapi dia mengakui bahwa itu adalah operasi yang berisiko dan penuh tekanan.

Dia mengatakan bahwa dia takut polisi atau kelompok lain akan merazia acara tersebut dan menangkap atau menyerang pesertanya. Dia juga menyadari bahwa acara

tersebut bisa memicu reaksi negatif dari masyarakat dan pemerintah, dan bahwa dia bisa menghadapi konsekuensi hukum.

Pasca Acara: Kecaman dan Kontroversi

Perayaan kemerdekaan yang diadakan oleh IIPAC pada tahun 2011 memicu gelombang kecaman dan kontroversi di Indonesia.

Acara tersebut banyak dilaporkan oleh media, dan menimbulkan banyak kritik dan kemarahan dari berbagai sektor masyarakat, terutama dari organisasi dan pemimpin Muslim, yang mengutuk acara tersebut sebagai penghinaan dan provokasi.

Pemerintah Indonesia juga bereaksi keras terhadap acara tersebut, dan mengatakan bahwa itu melanggar hukum dan konstitusi.

Kementerian Luar Negeri memanggil Ketang dan memintanya untuk memberikan klarifikasi tentang acara tersebut, serta memperingatkannya untuk tidak mengulanginya.

Kementerian Dalam Negeri mengatakan bahwa mereka akan menyelidiki status hukum dan kegiatan IIPAC, dan mengatakan bahwa mereka akan mencabut izinnya jika terbukti ilegal.

Kepolisian juga mengatakan bahwa mereka akan menyelidiki acara dan orang-orang yang terlibat, dan mengatakan bahwa mereka akan mengambil tindakan hukum jika ditemukan bukti pelanggaran.

Ketang dan IIPAC, bagaimanapun, membela acara tersebut dan pandangan mereka tentang Israel.

Mereka mengatakan bahwa mereka tidak bermaksud untuk menyakiti atau merugikan siapa pun, dan bahwa mereka hanya ingin menyatakan kebebasan berekspresi dan asosiasi mereka.

Mereka mengatakan bahwa mereka juga menghormati kedaulatan dan keragaman Indonesia, dan bahwa mereka tidak mendukung kekerasan atau ketidakadilan.

Mereka mengatakan bahwa mereka berharap acara tersebut akan membuka dialog dan kerjasama antara Indonesia dan Israel, dan bahwa mereka akan terus mengejar agenda mereka.

Masa Depan: Ketidakpastian dan Tantangan

Perayaan kemerdekaan yang diadakan oleh IIPAC pada tahun 2011 merupakan upaya langka dan berani untuk mempromosikan Israel di Indonesia, negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan mendukung perjuangan Palestina.

Acara tersebut menunjukkan bahwa ada beberapa orang Indonesia yang memiliki pandangan berbeda dan positif tentang Israel, dan yang bersedia menantang narasi utama dan dominan.

Namun, acara tersebut juga mengungkap kesulitan dan bahaya yang dihadapi pandangan dan kelompok semacam itu di Indonesia, negara dengan populasi Muslim yang besar dan berpengaruh serta sejarah hostilitas dan kecurigaan terhadap Israel.

Acara tersebut memicu reaksi negatif dari masyarakat dan pemerintah, dan menempatkan kelompok dan pemimpinnya di bawah pengawasan dan tekanan.

Masa depan IIPAC dan agenda mereka tidak pasti dan penuh tantangan. Kelompok dan pemimpinnya belum terdengar banyak sejak acara tersebut, dan tidak jelas apakah mereka berhasil melanjutkan kegiatan atau mencapai tujuan mereka.

Kelompok dan pemimpinnya juga mungkin menghadapi masalah hukum atau ancaman dari kelompok atau individu lain yang menentang pandangan atau tindakan mereka.

Kelompok dan pemimpinnya juga mungkin harus berurusan dengan situasi yang berubah dan kompleks di Timur Tengah, di mana Israel dan Palestina masih terlibat dalam konflik tanpa solusi mudah atau cepat.

Kelompok dan pemimpinnya juga mungkin harus beradaptasi dengan situasi yang berubah dan dinamis di Indonesia, di mana lanskap politik dan sosial terus berkembang dan berubah.

Kelompok dan pemimpinnya mungkin harus memikirkan kembali dan merevisi strategi dan taktik mereka, serta menemukan cara baru dan lebih baik untuk berkomunikasi dan berkerjasama dengan Israel dan Indonesia.

Kelompok dan pemimpinnya mungkin juga harus mempertimbangkan kembali dan mengevaluasi motif dan tujuan mereka, serta bertanya pada diri mereka sendiri apakah agenda mereka realistis dan bermanfaat bagi kedua negara dan masyarakat.