News  

Asal-usul ‘Israel’ dan ‘Palestina’, Dulu ke Sesarang – Realita.id

Akhir pekan lalu, Hamas–pasukan paramiliter Palestina–menembakkan ribuan roket ke Israel. Hamas juga menyusup ke Israel melalui jalur darat, laut, dan udara. Ratusan warga Israel terbunuh, lebih dari 2.000 warganya terluka, dan banyak pasukan militernya yang disandera.

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyatakan perang terhadap Hamas dan melancarkan serangan udara di Gaza. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Palestina, pada hari pertama serangan balik Israel, korban jiwa di Palestina telah mencapai 400 orang.

Kedua belah pihak, seperti perang dan aksi sebelum-sebelumnya antara kedua kubu, saling menyalahkan atas terjadinya serangan-serangan ini.

Sayangnya, perang ini dan kejadian-kejadian yang mengikutinya hanyalah babak terbaru dari sebuah catatan panjang yang tertulis dengan darah dan air mata.

“Israel.” “Palestina.” Satu tanah, dua nama. Masing-masing pihak mengklaim tanah itu sebagai milik mereka, dengan nama yang mereka pilih.

Seorang polisi Israel dan seorang perempuan Palestina berkelahi saat terjadi bentrokan menjelang rencana pawai yang direncanakan oleh kelompok ultranasionalis Yahudi melalui Yerusalem timur, di luar Kota Tua Yerusalem, pada 15 Juni 2021.
(AP Photo/Ariel Schalit)

‘Israel’

Nama “Israel” pertama kali muncul menjelang akhir abad ke-13 SM dalam Prasasti Merneptah di Mesir, yang tampaknya merujuk pada suatu bangsa (bukan suatu tempat) yang mendiami wilayah yang saat itu disebut “Kanaan”. Beberapa abad kemudian di wilayah tersebut, kita menemukan dua kerajaan bersaudara: Israel dan Yehuda (asal mula istilah “Yahudi”). Menurut Alkitab, pada awalnya terdapat sebuah kerajaan induk–yang disebut “Israel”–yang memimpin kedua kerajaan tersebut.

Pada sekitar tahun 722 SM, kerajaan Israel ditaklukkan oleh kekaisaran Neo-Asiria, yang berpusat di daerah yang sekarang disebut Irak. Dalam istilah geografis kuno, “Israel” sudah tidak ada lagi.

Yehuda

Kurang dari satu setengah abad kemudian, Yehuda digulingkan. Ibukotanya, Yerusalem, ditaklukkan, Kuil Suci Yahudi dihancurkan, dan banyak penduduk Yehuda yang diasingkan ke Babilonia.

Setelah masa pembuangan berakhir kurang dari 50 tahun kemudian, wilayah bekas kerajaan Yehuda menjadi pusat agama Yahudi selama hampir tujuh abad (meskipun Kuil Suci yang dibangun kembali dihancurkan lagi pada tahun 70 M oleh bangsa Romawi).

‘Palestina’

Pada tahun 135 M, setelah pemberontakan Yahudi yang gagal, Kaisar Romawi Hadrianus mengusir orang-orang Yahudi dari Yerusalem dan menetapkan bahwa kota itu dan wilayah sekitarnya menjadi bagian dari entitas yang lebih besar yang disebut “Suriah-Palestina.” “Palestina” diambil dari nama wilayah pesisir Filistin kuno, musuh-musuh bangsa Israel (nenek moyang orang Yahudi).

Setelah penaklukan Islam atas Timur Tengah pada abad ketujuh, orang-orang Arab mulai bermukim di wilayah yang dulunya bernama “Palestina”. Terlepas dari sekitar 90 tahun dominasi Tentara Salib, tanah itu berada di bawah kendali Muslim selama kurang dari 1.200 tahun. Meskipun pemukiman Yahudi juga tetap ada, populasinya sebagian besar adalah orang Arab.

Zionisme dan kendali Inggris

Pada paruh kedua abad ke-19, kerinduan yang telah lama dirasakan oleh orang-orang Yahudi di diaspora, untuk kembali ke wilayah nenek moyang mereka, memuncak melalui gerakan nasionalisme yang disebut Zionisme.

Tujuan Zionisme didorong oleh meningkatnya kebencian terhadap orang Yahudi di Eropa dan Rusia. Orang-orang Yahudi yang berimigrasi bertemu dengan penduduk yang sebagian besar adalah orang Arab, yang juga menganggapnya sebagai tanah leluhur mereka.

Seorang demonstran Palestina bertopeng memegang batu saat terjadi bentrokan dengan aparat keamanan Israel di depan Masjid Kubah Batu di komplek Masjid Al Aqsa di Kota Tua Yerusalem, pada 18 Juni 2021.
(AP Photo/Mahmoud Illean)

Pada masa itu, tanah tersebut terdiri dari tiga wilayah administratif milik kekaisaran Ottoman, tidak ada yang disebut “Palestina.”

Pada tahun 1917, tanah tersebut berada di bawah kekuasaan Inggris. Pada tahun 1923, dibentuk “Mandat Palestina,” yang juga mencakup negara Yordania saat ini. Penduduk Arab di sana menganggap diri mereka sendiri bukan sebagai “orang Palestina” dalam arti sebuah negara, melainkan sebagai orang Arab yang tinggal di Palestina (atau lebih tepatnya, “Suriah Raya”).

Negara Israel

Para pemimpin Zionis di wilayah Mandat Palestina berusaha keras untuk meningkatkan jumlah orang Yahudi untuk memperkuat klaim kenegaraan, tetapi pada tahun 1939, Inggris secara ketat membatasi imigrasi Yahudi.

Namun, pada akhirnya proyek Zionis berhasil karena ketakutan global dalam terhadap peristiwa Holocaust.

Pada bulan November 1947, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan Resolusi 181, yang membagi wilayah tersebut menjadi “Negara-negara Arab dan Yahudi yang merdeka”. Resolusi tersebut langsung mendapat penolakan dari Arab. Pasukan paramiliter Palestina kemudian menyerang pemukiman Yahudi.

Pada 14 Mei 1948, para pemimpin Zionis mendeklarasikan berdirinya negara Israel.

Dalam foto tanggal 14 Mei 1948 ini, seorang pejabat menunjukkan dokumen yang telah ditandatangani yang memproklamirkan pendirian negara Yahudi baru Israel yang dideklarasikan oleh Perdana Menteri David Ben-Gurion di Tel Aviv, Israel.
(AP Photo)

‘Perang Kemerdekaan’ versus ‘Al-Nakba’

Negara Yahudi yang baru ini segera diserbu oleh tentara dari beberapa negara Arab, bersama dengan para militan Palestina. Pada saat pertempuran berakhir pada tahun berikutnya, Palestina telah kehilangan hampir empat perlima dari jatah PBB. Tidak kurang dari 700.000 orang dari pihak mereka telah diusir dari rumah mereka, tanpa hak untuk kembali hingga saat ini.

Bagi warga Yahudi Israel, peristiwa ini dikenal sebagai “Perang Kemerdekaan”. Bagi warga Palestina, peristiwa ini adalah al-Nakba alias “bencana.”

Pada 15 November 1988, Dewan Nasional Palestina mengeluarkan deklarasi kemerdekaan, yang diakui sebulan kemudian oleh Majelis Umum PBB. Sekitar tiga perempat keanggotaan PBB sekarang menerima kenegaraan Palestina, dengan status pengamat non-anggota.

Perbedaan nasib, permusuhan tanpa henti

Meskipun beberapa kali berperang dengan negara-negara Arab dan kelompok sekutunya, Israel terus berkembang. Palestina juga telah berjuang untuk membangun pemerintahan yang fungsional dan stabilitas ekonomi.

Dalam Perang Enam Hari pada Juni 1967, Israel menangkis ancaman eksistensial yang sesungguhnya, dengan menghalau kekuatan militer Arab yang sangat besar yang berkumpul di perbatasannya. Perebutan Yerusalem Timur, Tepi Barat, dan Gaza oleh Israel selama perang tersebut membuat warga Palestina berada di bawah berbagai bentuk pendudukan atau kontrol Israel yang menyakitkan.

Sepanjang konflik Israel-Palestina, lebih banyak orang Palestina yang terbunuh dan terluka daripada orang Yahudi Israel. Sebagian besar karena kemampuan militer Israel yang lebih canggih. Ada juga karena strategi Hamas yang menempatkan pusat-pusat komando mereka di dalam wilayah-wilayah sipil.

Seorang perempuan Palestina ikut serta dalam unjuk rasa untuk memperingati ulang tahun ke-20 Intifadah Palestina kedua, atau pemberontakan, di kota Ramallah, Tepi Barat, pada 2020.
(AP Photo/Nasser Nasser)

Warga Yahudi Israel telah mengalami dua kali kekerasan pemberontakan Palestina(1987-1993; 2001-2005). Upaya yang kedua merupakan gelombang bom bunuh diri dan penyergapan yang mematikan.

Israel kemudian meresponsnya dengan membangun Pembatas Keamanan. Ini cukup membantu menahan serangan teroris Palestina tetapi sekaligus menambah penderitaan warga sipil Palestina.

Sejak tahun 1990-an, telah dilakukan beberapa kali upaya untuk menegosiasikan solusi dua negara, tetapi semuanya gagal.

Di bawah perdana menteri terlama di Israel, Benjamin Netanyahu, pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, yang dianggap ilegal oleh sebagian besar dunia, semakin dipercepat. Ini telah, dan akan semakin, mempersulit upaya-upaya perundingan.

Warga negara kelas dua

Sekitar 20% dari total penduduk Israel adalah orang Arab. Sayangnya, warga Arab Israel sebagian besar diperlakukan sebagai warga negara kelas dua di dalam negara resmi Yahudi.

Kekalahan Netanyahu baru-baru ini dapat membantu mengatasi hal ini. Israel sekarang memiliki koalisi pemerintahan yang mencakup partai Arab Israel.

Pikirkan baik-baik

Lebih dari 1.000 tahun, “Israel” mendahului “Palestina”. Tanah itu kemudian menjadi rumah bagi penduduk Arab, sekali lagi, selama lebih dari satu milenium. Oleh karena itu, baik orang Yahudi maupun Arab memiliki klaim yang sah atas tanah tersebut.

Konflik Israel-Palestina telah menunjukkan banyak sekali kesalahan dan kebrutalan dari kedua belah pihak. Tidak ada tindakan balas dendam, betapapun ekstremnya, yang dapat membuat salah satu pihak mengatakan bahwa semua telah diselesaikan di pihak mereka.

Satu-satunya jalan ke depan adalah, entah bagaimana, berhenti melihat ke belakang.

Dalam sebuah pembalikan dari transformasi Sungai Nil dalam Alkitab, sungai-sungai darah yang tumpah harus menjadi air di bawah jembatan.

Daniel Miller, Assoc. Prof. of Religion, Society and Culture, Bishop’s University

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.