News  

AS Boneka Israel? Atau Israel yang Bonekanya AS? – Realita.id

Realita.id – Konflik antara Israel dan Palestina yang kembali memanas sejak awal Oktober 2023 telah memunculkan pertanyaan esensial tentang peran Amerika Serikat (AS) sebagai sekutu utama Israel.

Apakah AS benar-benar mendukung Israel tanpa syarat, atau terdapat motif tersembunyi di balik hubungan yang telah berlangsung tujuh dekade ini? Pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya menjadi boneka di antara kedua negara juga menjadi sorotan.

Sejarah hubungan AS-Israel

Hubungan AS-Israel dimulai pada tahun 1948 saat Presiden Harry Truman menjadi pemimpin dunia pertama yang mengakui kemerdekaan Israel.

Keputusan Truman dipengaruhi oleh faktor-faktor pribadi, politik, dan strategis. Truman memiliki hubungan baik dengan mitra bisnis beragama Yahudi, Edward Jacobson, yang memintanya untuk mendukung Israel.

Di sisi politik, Truman ingin mendapatkan dukungan dari komunitas Yahudi di AS, terutama menjelang pemilu tahun 1948. Secara strategis, Israel dipandang sebagai sekutu potensial di Timur Tengah, medan pertempuran antara AS dan Uni Soviet dalam Perang Dingin.

Sejak itu, hubungan AS-Israel semakin erat di bidang militer, ekonomi, dan diplomatik. AS memberikan bantuan militer dan keuangan yang besar kepada Israel serta melindungi negara itu dari kritik dan sanksi internasional di PBB.

AS juga berperan sebagai mediator dalam proses perdamaian antara Israel dan negara-negara Arab seperti Mesir, Yordania, dan Uni Emirat Arab. Selain itu, kerja sama di bidang intelijen, teknologi, dan budaya semakin diperkuat.

Alasan-alasan AS mendukung Israel

AS memberikan dukungan kepada Israel atas dasar rasional dan emosional. Secara rasional, Israel dianggap sebagai sekutu setia, demokratis, dan stabil di Timur Tengah, wilayah yang penting bagi kepentingan AS dalam akses sumber daya energi, pasar, dan jalur transportasi.

Kontribusi Israel dalam inovasi, pertahanan, dan keamanan juga dihargai karena dapat meningkatkan kemampuan AS menghadapi ancaman global seperti terorisme, proliferasi nuklir, dan perang siber.

Secara emosional, ikatan historis, agamis, dan moral antara AS dan Israel sangat kuat. Nilai bersama seperti demokrasi, hak asasi manusia, dan kebebasan menjadi dasar dari hubungan ini.

AS merasa memiliki kewajiban moral untuk melindungi Israel sebagai negara Yahudi yang pernah menjadi korban dari Holocaust dan antisemitisme. Lobi pro-Israel juga memiliki pengaruh besar di kalangan politisi, media, dan masyarakat AS.

Dampak-dampak hubungan AS-Israel

Meski hubungan AS-Israel begitu erat, dampaknya tidak selalu menguntungkan bagi kedua belah pihak. Di tingkat regional, hubungan ini sering menimbulkan ketegangan dan konflik dengan negara-negara Arab dan Muslim.

Ketidakadilan yang dirasakan oleh negara-negara ini terhadap kebijakan AS yang pro-Israel sering kali menjadi sumber ketegangan. Hubungan ini juga menghambat proses perdamaian antara Israel dan Palestina yang menjadi akar dari konflik di Timur Tengah.

Di tingkat global, hubungan ini menimbulkan kritik dan kecaman dari komunitas internasional yang menilai AS sebagai negara yang tidak netral dan konsisten dalam menerapkan hukum dan norma internasional.

Hal ini merusak citra dan kredibilitas AS sebagai pemimpin dunia yang seharusnya menjadi contoh bagi negara-negara lain. Selain itu, hubungan ini juga menimbulkan risiko dan tantangan bagi AS dalam menghadapi negara-negara saingan seperti Rusia, China, dan Iran.

Kesimpulan

Hubungan AS-Israel adalah kompleks dan kontroversial, dipengaruhi oleh berbagai faktor, dan memiliki dampak yang luas. Hubungan ini bukan sekadar hubungan antara boneka dan pemainnya, tetapi merupakan hubungan yang saling mempengaruhi.

Dinamika dan tantangan yang terus berkembang di dunia menuntut perubahan dan penyesuaian. Untuk itu, diperlukan keseimbangan dan kebijaksanaan agar hubungan ini dapat memberikan manfaat bagi kedua negara dan untuk perdamaian serta kesejahteraan dunia.