News  

Antara Tantangan dan Harapan – Jurnal Faktual

Realita.id – Feminisme muslimah adalah sebuah istilah yang menggambarkan gerakan dan pemikiran yang berupaya mengembalikan hak-hak perempuan dalam Islam yang seringkali terabaikan atau terdistorsi oleh budaya patriarki.

Feminisme muslimah bukanlah sebuah konsep baru, namun juga bukan tanpa kontroversi. Banyak yang mempertanyakan apakah feminisme bisa hidup di bawah payung Islam, yang cenderung didominasi oleh laki-laki. Bagaimana sejarah, perkembangan, dan tantangan yang dihadapi oleh feminisme muslimah di Indonesia dan dunia?

Sejarah dan Perkembangan Feminisme Muslimah

Feminisme muslimah tidak bisa dipisahkan dari sejarah dan perkembangan feminisme secara global. Feminisme adalah sebuah gerakan yang memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender antara laki-laki dan perempuan. 

Feminisme memiliki beberapa gelombang, mulai dari gelombang pertama yang berfokus pada hak-hak sipil dan politik perempuan, seperti hak suara dan pendidikan, gelombang kedua yang menyoroti isu-isu sosial dan budaya yang berkaitan dengan peran dan identitas perempuan, seperti pekerjaan, seksualitas, dan kekerasan, hingga gelombang ketiga yang lebih beragam dan inklusif, dengan memperhatikan perbedaan ras, kelas, etnis, agama, dan orientasi seksual di antara perempuan.

Feminisme muslimah muncul sebagai salah satu cabang dari feminisme gelombang ketiga, yang mengkritik feminisme Barat yang dianggap tidak sesuai dengan konteks dan nilai-nilai perempuan muslim.

Feminisme muslimah berusaha menggali kembali sumber-sumber Islam, seperti Al-Qur’an dan Hadis, untuk menemukan ajaran-ajaran yang menghargai dan menghormati perempuan sebagai makhluk Allah yang berhak mendapatkan perlakuan adil dan setara dengan laki-laki.

Feminisme muslimah juga menantang interpretasi dan praktik yang bersifat diskriminatif dan menindas perempuan, yang seringkali berasal dari tradisi dan budaya yang dipengaruhi oleh patriarki.

Feminisme muslimah berkembang di berbagai belahan dunia, dengan tokoh-tokoh dan organisasi-organisasi yang berbeda. Beberapa tokoh feminisme muslimah yang terkenal antara lain adalah Amina Wadud, Asma Barlas, Fatima Mernissi, Ziba Mir-Hosseini, Riffat Hassan, dan Leila Ahmed. Mereka adalah para akademisi dan aktivis yang menulis dan berbicara tentang isu-isu seperti hak-hak perempuan dalam keluarga, pernikahan, perceraian, waris, kepemimpinan, pendidikan, politik, dan lain-lain. Mereka juga melakukan reinterpretasi terhadap ayat-ayat dan hadis-hadis yang seringkali digunakan untuk melegitimasi ketidakadilan terhadap perempuan.

Di Indonesia, feminisme muslimah berkembang melalui pemikiran dan aktivisme feminis muslim Indonesia generasi awal, seperti Ibu Lies Markoes dan KH Husein Muhammad sampai dengan generasi feminisme Islam muda saat ini seperti Dr Nurrofi’ah Bil Uzm dan Dr Fakihuddin Abdul Kodir. Mereka berkontribusi dalam mengembangkan wacana dan gerakan feminisme muslimah di Indonesia, dengan melibatkan berbagai elemen, seperti organisasi perempuan, lembaga pendidikan, media massa, dan pemerintah. Beberapa organisasi perempuan yang bergerak dalam bidang feminisme muslimah antara lain adalah Rahima, Fahmina, Kalyanamitra, Rifka Annisa, dan lain-lain.

Tantangan dan Harapan Feminisme Muslimah

Feminisme muslimah menghadapi berbagai tantangan, baik dari dalam maupun dari luar. Dari dalam, feminisme muslimah seringkali dianggap sebagai sebuah gerakan yang asing, tidak otentik, dan bahkan bertentangan dengan Islam.

Feminisme muslimah dianggap sebagai sebuah produk dari Barat yang ingin menghancurkan nilai-nilai Islam dan mengikuti gaya hidup liberal. Feminisme muslimah juga dianggap sebagai sebuah ancaman bagi otoritas dan kekuasaan laki-laki, yang merasa terancam oleh tuntutan-tuntutan perempuan untuk mendapatkan hak-hak yang sama dengan mereka.

Dari luar, feminisme muslimah juga menghadapi tantangan dari feminisme Barat, yang seringkali menggeneralisasi dan mengstereotipkan perempuan muslim sebagai korban, pasif, dan tertindas oleh Islam.

Feminisme Barat juga cenderung mengabaikan keragaman dan kompleksitas pengalaman dan aspirasi perempuan muslim, yang tidak bisa disamakan dengan perempuan Barat. Feminisme Barat juga seringkali mengintervensi dan mengintimidasi perempuan muslim dengan cara-cara yang paternalistik, neokolonial, dan imperialistik, seperti dengan menggunakan isu-isu seperti jilbab, poligami, dan sunat perempuan sebagai alasan untuk mengintervensi urusan internal perempuan muslim.

Meskipun demikian, feminisme muslimah tidak putus asa dan terus berjuang untuk mewujudkan visi dan misinya. Feminisme muslimah memiliki harapan untuk menciptakan sebuah masyarakat yang adil dan damai, di mana perempuan dan laki-laki dapat hidup bersama dalam kesetaraan dan saling menghormati.

Feminisme muslimah juga memiliki harapan untuk merevitalisasi dan mereformasi Islam, agar dapat kembali menjadi sumber inspirasi dan solusi bagi perempuan dan laki-laki muslim. Feminisme muslimah juga memiliki harapan untuk berdialog dan bekerja sama dengan berbagai pihak, baik sesama muslim maupun non-muslim, yang memiliki komitmen yang sama untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan kemanusiaan.